Selasa, 06 Mei 2014

fanfiction kyuhyun

FF : Dirty (Sad Romance) Cho Kyuhyun

Title: Dirty
Genre: Sad Romance, Hurt, Angst
Cast: Cho Kyuhyun, Kim Heera (OC)
Length: One Shot
Author: Riska Indah Damayanti a.k.a Kyupil a.k.a gymgyu
Note: Alurnya maju mundur, jadi jangan bingung ya? Hehehe



.Kyuhyun POV.
Entah untuk keberapa kalinya kutarik udara yang berlalu lalang dihadapanku untuk memenuhi dadaku. Berkali kali kuhirup pun tetap tak dapat membuatku puas akan sesak yang melanda dadaku. Sesuatu yang mengisi ruang yang kini kosong itu telah meninggalkanku. Berhenti untuk mengayunkan langkah suka dan duka, berhenti untuk menghiasi setiap detik yang  berjalan dengan senyuman dan tingkah tingkah yang tak dapat diduga. Berhenti memberi cahaya bagi keterpurukanku. Kini aku kelam tanpa cahaya itu. Walau seorang bidadari yang diimpi-impikan para pria menari disampingku pun aku hanya bisa merasakan duri yang kutabur sendiri dalam gelap.



Diri bodoh ini terlalu tergoda akan pesona gadis semu yang mungkin ribuan tangan telah menjamah tubuhnya. Termasuk tangan bodoh ini. Menyia-nyiakan tulus cinta yang tak pernah habis kau tuangkan ke gelas kosong yang kusebut hati. Mengkhianati janji yang kuulur saat usia kita menginjak istilah remaja. Janji manis yang kini berubah menjadi racun bagi tuannya. Terlebih lagi secarik kertas merah muda dengan ukiran namamu dan pria lain kini ditanganku. Bagaikan mengenggam sebilah pisau yang telah menggores indah di dadaku.


—-



Hari ini, setelah 1 bulan pupil mata ini tak menangkap bayang dirimu. Aku kini tengah duduk manis di atas kursi panjang cokelat, menyatu dengan puluhan orang yang datang kesini dengan tujuan yang sama denganku. Menyaksikan sebuah janji pengikatan antara dua insan untuk menyongsong kehidupan yang mereka rencanakan dengan apik dan penuh harapan.

Seorang pria berbalut tuxedo putih tengah berdiri gagah dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Tak salah lagi ini adalah pria yang akan mengikat perjanjian di mata Tuhan.

“Mempelai wanita memasuki altar.” Pintu gereja pun terbuka dengan sinar yang menyeruak masuk dan menyilaukan tiap mata yang tersapu oleh cahayanya. Disusul sosok wanita yang terlihat anggun terbalut indahnya kain putih berupa dress dengan bunga mawar putih digenggamnya erat. Air mataku jatuh diantara riuhnya kegembiraan semua audience. Tidak lazim memang air mata jatuh dari mata seorang pria dengan mudahnya. Tapi, kau takkan bisa memahami kerasnya cobaan yang menerpa diriku.

-

Jika saja aku tak pernah tergoda oleh jamahan wanita murahan itu, akulah yang akan berdiri bersamamu di altar itu. Aku lah yang akan mengucapkan janji sehidup sematiku bersamamu dihadapan Tuhan dan seluruh isi bumi ini. Akulah yang seharusnya tersenyum menantimu berjalan menuju altar. Akulah, akulah yang harusnya menjadi dinding kokoh yang akan menjagamu hidup dan mati.





–Flashback–





Dedaunan yang setia menempel pada ranting-ranting pohon Oak itu nampak berayun riang terbawa angin. Seakan menari bersama perasaan riangku bersama gadis mungil yang tengah tersenyum manis dihadapanku. Sesekali hembusan angin itu membelai rambutnya, menerbangkannya ke sembarang arah, membuat empunya mengerucutkan bibir palm nya.

Kusisir riak rambut itu dengan jemariku, kerucutan bibir itupun mengembang indah menjadi sebuah senyum yang sungguh ingin sekali kumiliki. Aku pun mengikuti jejaknya, memamerkan deretan gigi putihku sembari terus membelai rambut ikalnya.

“Heera-ah, aku mencintaimu” ujarku manis

“Kau tak akan berbohongkan?” tanyanya lugu

“Tentu, hmmm suatu hari nanti aku akan berjanji pada Tuhan untuk terus menjagamu dengan cintaku” entah darimana aku mendapatkan kata kata ini, tapi aku sungguh sungguh mengatakan ini. Kulihat semburat merah itu menyeruak keluar dari kedua pipi bulatnya



–Flashback END–





Heera-ya, apakah ini hukuman bagiku? Inikah kenyataan pahit yang harus kutelan? Haruskah ini menjadi ujung dari perkataan manis yang terurai, pernyataan lampau yang kuakui itu hanya bualan. Bualan yang kini harus ketelan.

“Ya, saya bersedia” akhirnya kata kata itu lolos keluar dari bibir manismu. Terlihat manis memang, terlalu manis hingga menjadi racun yang mencekik hatiku. Tidak, aku tak ingin melihat yang lebih sakit dari ini, Heera-ah~ Cukup, cukup sudah aku mengetahui jika kau sudah berbahagia dengan lelaki pilihanmu.

Ternyata pemilik janji setia itu tak jatuh padaku. Inikah rasanya saat melihat orang yang kita cintai bersanding bersama orang lain? Beginikah? Maafkan aku Heera-ah, aku yang dulu adalah Kyuhyun bodoh. Aku yang dulu adalah Kyuhyun yang termakan oleh pesona wanita, Kyuhyun bodoh yang melupakan tutur manisku padamu.




–Flashback–





“Kyu!!” sentakan dari arah pintu membuatku melepas tautan bibirku dengan wanita dihadapanku, melepaskan jamahan tanganku yang tengah memberikan ‘service’ dibagian sensitive nya. Kepalaku refleks menoleh kearah pintu. Sial, sejak kapan Heera berdiri disana? Dengan segera aku memunguti helai pakaianku yang tersebar dilantai kamarku.

“Heera-ah!!” panggilku pada sosok yang sudah berlari dan menghilang dibalik pintu.

“Kau mau kemana?” ujar wanita yang tengah terduduk di ranjangku tanpa pakaian itu sembari menahan tanganku.

“Dasar wanita jalang! Bukan urusanmu! Lepas!” dengan tatapan keji, aku menghina wanita itu. Melepaskan tangannya, memakai lembaran demi lembaran pakaianku dan kemudian pergi tanpa menghiraukan seruan yang ia lontarkan untuk membuatku kembali padanya







“Heera-ah!!” semua orang memusatkan perhatiannya padaku yang tengah berlari sembari melolongkan namanya. Hingga akhirnya langkahku berhenti tatkala kugenggam jemarinya, membuatnya ikut serta menghentikan langkahnya. Ia tak berbalik badan, tapi ku ketahui dengan pasti ia menangis. Bahunya yang berguncang keras itu ikut mengguncang hatiku.

“Aku ingin menjelaskan semua” ujarku. Akhirnya ia membalikan badannya, matanya merah dan membengkak.

“Apa? Apa?! Kau ingin menjelaskan ini adalah kesekian kalinya kau menyentuh wanita jalang itu?! Kau kira aku tak pernah tahu apa yang kau lakukan dibelakangku?! Sudah berapa wanita yang kau ajak bercinta?! Eoh?!!” bentaknya

“…” sial, aku kehilangan kata kata. Demi Tuhan, aku tak tahu jika ia mengetahui semuanya.

“Kau diam kan?! Kau tak bisa mengelak lagi, Kyu!! Kau kotor!! Janjimu kotor!!” kata katanya menusuk relung hatiku. Ia membalikkan badannya, kembali berlari dan menghilang di ujung jalan.

“Ya, aku memang kotor, Heera-ah~ Maafkan aku. Aku kotor!!!” rutukku pada diriku sendiri.



–Flashback END–




.Normal POV.



Ting.. Tong..


Bunyi bel mengusik keluarga yang tengah bahagia didalam rumah bercat putih ini. Tak perlu waktu yang lama, seorang wanita berbaju pink soft dengan rambut ikal yang terkuncir rapi itu membuka pintunya. Orang yang bertamu itu pun tersenyum.

“Nyonya, ada surat” ujar seseorang yang bertamu itu, atau lebih tepatnya tukang pos.

“Ah, ne” tanggap wanita itu kemudian menerima surat yang disodorkan orang dihadapannya.

“Tanda tangan dulu disini, Nyonya” lagi lagi tukang pos itu menyodorkan kertas, kali ini wanita itu menerima kertas itu dan menandatangani kertas yang diyakini sebagai tanda terima.

Seperginya tukang pos itu, wanita yang sedari tadi berada diambang pintu itu berjalan menuju terasnya, mendudukkan dirinya pada kursi berwarna senada dengan cat rumahnya. Tangannya dengan cekatan membuka surat yang jelas jelas menuliskan bahwa si penulis menulis surat itu untuk wanita cantik itu.




—-






Hilir angin sibuk menerpa tubuhku yang tengah melemah. Aku tak punya daya lagi, kekuatan hidupku habis sudah. Bahkan mungkin jika angin itu tak bosan bosannya menabrak diriku, aku akan hanyut bersamanya. Hilang, terbang, lenyap.

Aku memandangi seuntai kalung perak yang erat digenggam oleh tanganku yang nampak seperti tulang yang terbungkus kulit tanpa daging. Ya, tubuh kotor ini akhirnya mendapatkan ganjaran dari perbuatan kotornya.

Kilauan pancaran sang surya terpantul pada liontin indah dikalung itu. Kalung yang dulu kubeli dengan jerih payahku demi pujaan hatiku kini sudah berbalik kepemilikan. Kembali pada tuannya yang telah membelinya.

Aku menyungging senyum miris di bibir pucatku. Senyum miris saat sesuatu yang menyakitkan tengah menjerit di dalam sana. Terasa menarik narik paksa sesuatu dalam diriku. Tidak, aku tidak bisa bertahan dalam senyum kecut ini. Ini terlalu sakit untuk tersenyum.

“Arrgghhh..” akhirnya erangan itu lolos dari bibirku yang entah mengapa mengeluarkan cairan berwarna merah kental. Aku mengusap cairan itu, aku menatap sendu tangan gemetar yang berlumur darah itu. Bibir bodoh ini kembali tertawa miris.

“Tuhan.. aku tahu, aku tahu cepat atau lambat kau akan menarik kembali nyawaku yang sepenuhnya milik-Mu. Tapi, izinkan aku mengucapkan sesuatu padanya sebelum aku kembali kepada-Mu.”






Heera-ah..

Maaf karena aku kembali mengusik hidupmu yang kini jauh lebih baik dibandingkan saat kau bersanding dengan diriku. Bahkan kudengar kau sudah memiliki putri dari pernikahan kalian. Apa dia cantik sepertimu? Ya, pasti dia memiliki senyum yang manis seperti dirimu.

Heera-ah..

Sungguh, aku tak mempunyai maksud tertentu dengan mengirim surat ini padamu. Aku hanya berterima kasih karena kau telah menjauhiku dari hidupmu. Aku tak bisa membayangkan jika tubuh kotor ini benar benar meracuni dirimu. Aku bahagia. Aku bahagia karena kau mendapatkan orang yang pantas untukmu.

Mungkin kau dapat melihat beberapa bercak darah disurat kotor ini. Maaf jika aku mengotori tangan indahmu. Aku hanya ingin mengucapkan selamat atas kebahagiaanmu. Aku tak sempat mengatakannya saat kejadian di atas altar itu. Aku tak sanggup untuk melihat itu. Aku.. aku terlalu rapuh untuk mengucapkan kata selamat untukmu saat itu.

Sekarang, mungkin saat kau membaca surai ini,  aku tak ada didunia ini. Aku pergi bersama penyakit kotorku. Satu hal yang harus kau ketahui pasti. Sampai akhir aku menghembuskan nafasku, aku masih menggenggam erat namamu. Aku masih bisa mengingat dan merasakan bahwa aku mencintaimu, Heera-ah.

Heera-ah..

Aku mencintaimu dalam dunia damaiku

-Cho Kyuhyun-







Cairan bening itu menyeruak deras dari mata hazel wanita yang terduduk di kursi putih. Dengan tangan yang gemetar, wanita itu menarik secarik surat dengan bercak darah itu kedadanya. Sedikit meremas surat itu hingga kertas usang itu tampak sedikit rusak. Serusak daya pikirnya saat ini.

Bahunya berguncang, isak tangis membasahi kertas usang itu. Tangan kanannya meraih amplop yang tadi menyelimuti surat itu. Sebuah kalung perak ia keluarkan dari dalam amplop itu. Kalung yang dahulu pernah tergantung di lehernya itu semakin membuat air matanya mengalir deras.

“Kyu, aku juga… mencintaimu”


END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar